Selasa, 07 Mei 2013

Pendeta


Pendeta.jpg
Hotman J. Lumban Gaol

Kata “pendeta” dalam tradisi gereja, bahkan di Eropa tidak menemukan akar kata yang kuat. Sebutan Pastorlah yang tersemat bagi seorang pelayan Tuhan. Sebutan pendeta hampir tidak pernah disebutkan. Kalau demikian dari mana asal-usul dari gelar atau sebutan pendeta yang dipakai bagi pelayan Tuhan? Panggilan itu, disinyalir merupakan gelar pengakuan terhadap para pemimpin agama di era pasca-Reformasi, kemungkinan di abad ke-17.
Masa reformasi gereja di Eropa, kaum pelayan menyapa rekan sepelayanan dengan sebutan reverend brethren. Jika diterjemahkan bebas disebut “saudara pendeta.” Tak tepat sebenarnya. Namun, kalau kita merujuk gereja mula-mula, kata itu diartikan bebas sebagai pemimpin. Sebutan pendeta, yang dipakai kemudian mengacu kepada sifat dari jabatan, bukan kepada individual.

Jika kita merujuk sejarah, Kristen Indonesia yang memakai pendeta. Kata pendeta lebih dekat dengan sebutan pandita dalam tradisi Hindu. Pandita berubah lapal menjadi pendeta [bahasa Batak:Pandita]. Dalam agama Hindu kata pendeta memiliki kekuatan yang mengikat umat. Pandita adalah insan yang suci. Dilihat dari kemampuannya  memiliki pengetahuan, sikap, dan prilaku yang baik sehari-hari. Bahkan, keputusan ucapannya yang bijaksana.
Pendeta [bahasa Sanskerta: Pandita] berarti brahmana, guru agama dalam tradisi Hindu atau Buddha. Ucapan pandita adalah suara kebenaran, atau darma. Karena itu, ada empat sifat pandita yaitu: Pertama, Sang Satya Wadi artinya selalu membicarakan kebenaran. Kedua, Sang Apta artinya selalu dapat dipercaya. Ketiga, Sang Patirthan artinya tempat memohon kesucian. Empat, Sang Penadahan Upadesa artinya pandita memiliki kewajiban memberi pendidikan moral kepada masyarakat. Oleh karenanya, pandita disebut Adi Guru Loka yaitu guru utama dalam lingkungan masyarakat.
Pandita, berpaling dari pengertian “bhisama.” Lagi-lagi dalam agama Hindu, pada bait kakawin Ramayana disebutkan bahwa bhisama berarti bahaya untuk dilanggar karena bhisama sesuatu yang menakutkan. Berasal dari buah pikiran pandita suci. Artinya ucapan pandita harus ditaati. Pandita juga kata lain daripada pandito, diartikan penempa. Ibarat mpu, si penempa keris dari baja; menempanya di tungku perapian.  Padanan istilah pendeta untuk agama Islam disebut ustadz, untuk Kristen Katolik adalah pastor, sedangkan untuk Buddha adalah biksu  [bahasa Hokkian: boksu].

Tradisi Kristen Indonesia sesungguhnya mengadopsi bahasa Sansekerta, pandita menjadi pendeta. Tidak ada yang salah! Di Minangkabau ulama Islam pernah dipanggil pendeta seperti yang terekam dalam novel Marah Roesli, Siti Noerbaya, itu. Pendeta diartikan memiliki kewajiban untuk menentukan suasana dalam jemaat, sehingga jemaat dapat lebih giat memenuhi panggilannya. Penuntun sebuah komunitas yang belajar-mengajar. Pendeta adalah pengajar jemaat. Ia, juga merupakan seorang pengajar khusus, dimana sang pandito berjibaku melibatkan diri secara langsung.
Alih-alih ucapan pandeta berisi petunjuk, aturan yang bertujuan untuk menata, memantapkan, dan mengarahkan umat. Dalam ruang yang lebih luar berarti penuntun umat. Seorang pendeta mesti mengerti kitab suci, itu satu hal. Hal lain, yang tatkala penting tata pri kehidupannya. Ia, bukan hanya ketika berada di atas mimbar suci dalam tanda petik, tetapi integritasnya diuji di lakon kehidupan sehari-harinya. Maka, kepatutannya memperlihatkan sikap mulia.
Sang pendeta, pemberian sabda didasari oleh pengalaman nyata bersama Tuhan-Nya. Dalam tuntunan agama, merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dan dipakai sebagai acuan umat. Dan, yang pertama dan yang utama yang menjadi kekuatan di dalam diri pendeta adalah keyakinannya. Jauh di dalam lubuk hatinya, bahwa Tuhan telah memanggil dia menjadi seorang pelayan, bukan untuk dilayani. Jika itu melekat, dialah sang pendeta penuntun umat itu.

Alkitab dengan gamblang menyebut seorang pelayan Tuhan [pendeta] adalah seorang manusia Tuhan. Walau pastor dan pendeta itu hanya jabatan, bukan gelar, karena nantinya setelah selesai mengembankan tugasnya gelar itu bisa pensiun disebut emeritus [bagi perempuan disebut emerita]. Pendeta yang bagi gereja tertentu, mengizinkan pendetanya bertugas seumur hidup.
Khotbah yang terbesar, yang termulia, dan yang terbaik dari yang pernah disampaikan oleh seorang pendeta adalah melalui contoh hidupnya sendiri. Ralp Waldo Emerson berkata, “Apa yang kamu sampaikan begitu nyaring, saya tidak dapat mendengar apa yang kamu katakan.” Tidak ada seorang-pun yang dapat berkotbah lebih tinggi dari suara tangisan terhadap contoh hidupnya sendiri.
Tetapi, umumnya gereja-gereja menetapkan batasan masa seorang pendeta. Yang hendak tidak bisa dilupakan jabatan pendeta itu jabatan yang diurapi Tuhan. Belakangan emeritus sendiri menjadi agak samar, karena ucapan emeritus yang dulunya disematkan pada pendeta, kini di kalangan akademik juga menyebut emeritus bagi professor atau guru besar yang pensiun.
Mengatakan “lakukan apa yang saya katakan” itu yang diucapkan, pendeta. Tetapi alangkah menghujam hinggap menusuk sampai ke hati kalimat Yesus “Perbuatlah seperti yang saya lakukan.” Paulus juga pernah katakan, tidak pernah berhenti menyerukan hal itu, tanpa sebuah keegoisan, untuk mengajak orang-orang yang percaya mengikuti keteladan dalam mencontoh hidupnya.

Jadi, kalau pendeta yang tidak menunjukkan sifat baiknya. Pelayanannya melenceng dari tugas mengarahkan umat, maka patut juga dipertanyakan, yang salah adalah lembaga tempatnya digembleng. Dari mana asal-usulnya, latar belakangnya lembaganya. Kata lain, dari mana asal sekolah sang pendeta tersebut.
Para calon tokoh pemimpin umat itu harus dilatih dengan keras. Para pendeta [pandito]terlebih dahulu digembleng sebelum diberikan tugas. Dulu, cerita pewayangan para panggawa pun harus melewati kancah candradimuka. Cerita pewayangan yaitu tentang cerita Gatotkaca, di mana Gatotkaca direbus dulu di dalam kawah candradimuka, setelah proses itu akhirnya dia memiliki kesaktian otot kawat tulang besi.

Ada pelatihan disiplin bagi mereka yang hendak memimpin umat. Orang yang didik dengan baik dalam candradimuka itu adalah orang yang baik. Sebaliknya pandito yang tidak pernah dididik dengan kedisiplinan terlihat. Calon pandito seperti ini nggak pernah merasakan dikerangkeng, menderita. Kalau tidak pernah dirasakan dipanaskan di atas tungku. Bagaimana menahan sakit! Tungku itu, zaman mondern ini disebut sekolah tinggi teologia. Tempat persemaian hamba-hamba Tuhan. Tetapi lihat, kalau mau jujur lulusan sekolah tinggi teologia seringkali tidak diperhitungkan, atau diberikan hak lebih layak dari lulusan lain.
Itu juga barang kali, konon, katanya, orang Kristen menganggap bahwa sekolah teologia adalah tempat orang-orang yang terakhir. Orang-orang yang tidak lulus seleksi perguruan tinggi biasanya pelariannya mendaftar ke sekolah teologia. Itu bisa dilihat, sejak tahun 80-an penerimaan mahasiswa sekolah tinggi teologia selalu dibuat terakhir. Untuk apa? Menunggu calon mahasiswa “buangan” yang tidak diterima di universitas. Ini salah kaprah!

Senin, 06 Mei 2013

Seandainya JK


Seandainya JK.jpg
Oleh:  Victor Silaen
PILIHAN-pilihan politik kerap tak bisa dikategorikan sebagai ”yang paling benar” dan sebaliknya ”yang paling salah”. Kecuali dalam kasus tertentu, seperti tahun silam saat warga Jakarta memilih Jokowi-Ahok atau Foke-Nara. Lha sudah tahu Foke itu terduga korupsi  (minimal ada 10 laporan korupsi yang masuk ke KPK, belum lagi yang bersumber dari kasak-kusuk di warung tegal dan arisan keluarga), kok masih dipilih juga? Makanya, komunitas Kristen yang mendukungnya seraya mendoakannya di mimbar gerejawi itu cuma dua kemungkinannya: tak berwawasan sama sekali dan/atau punya kepentingan tertentu dengan Foke.
Terkait itu, mungkin sebagian besar kita kecewa dengan kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bayangkan, karena sikap ragu dan lambannya, nama SBY kerap dipelesetkan menjadi Soslow Bimbang Youdontyouknow atau dipendekkan menjadi Presiden Susi. Apa boleh buat, itulah konsekuensi logis seorang pemimpin yang untuk partai sigap turun-tangan tapi untuk rakyat siap angkat-tangan.
Karena kekecewaan yang begitu besarnya, ada orang yang lantas berpikir begini: ”Coba dulu seandainya kita memilih JK.” Maksudnya, kalau JK (Jusuf Kalla) menang, dia pasti lebih baik ketimbang SBY yang kurang baik? Hmm... saya ragu. Bacalah berita yang dikutip dari beberapa situs dan media sosial ini.

Jumat (1/3) sore kemarin, Pak JK memimpin rapat DMI (Dewan Masjid Indonesia). Sehabis mahgrib ia cerita bahwa baru saja ceramah di Makasar dalam konferensi gereja di hadapan 700 pendeta. Dalam sesi tanya-jawab ada yang tanya tentang GKI Yasmin di Bogor. JK menjawab: “Anda ini sudah punya 56.000 gereja di seluruh Indonesia, tidak ada masalah, seharusnya berterima kasih. Pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan satu gereja ini Anda sampai bicara ke seluruh dunia? Toleransi itu kedua belah pihak, Anda juga harus toleran. Apa salahnya pembangunan dipindah lokasi sedikit saja. Tuhan tidak masalah kamu mau doa di mana. Izin membangun gereja bukan urusan Tuhan, tapi urusan wali kota.”
     Lalu ada lagi yang bertanya begini: ”Mengapa di kantor-kantor mesti ada masjid?” JK pun menjawab tegas: ”Justru ini dalam rangka menghormati Anda. Jumat, kan tidak libur. Anda libur hari Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan lima kali shift, ibadah Jumat cuma sekali. Kalau Anda tidak suka ada masjid di kantor, apa Anda mau hari liburnya ditukar: Jumat libur, Minggu kerja? Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen.”

Dalam acara lain, Launching Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan di Indonesia 2012, di Hotel Akmani, Jakarta (7/3/2013), mantan wakil presiden 2004-2009 ini juga mengatakan toleransi di Indonesia sangat baik. Hal ini bisa dilihat dan dibuktikan dari beberapa perspektif. Hari libur nasional adalah hari libur semua agama. “Ini tidak terjadi di negara mana pun di dunia,” ujar JK.
Dari sisi kepemimpinan, lanjut JK, tahun 2007 ada sepuluh gubernur yang non-muslim dari 33 gubernur di Indonesia. Saat ini ada delapan gubernur. Dari sisi pemerintahan, pada zaman Orde Baru, semua kementerian penting pernah dijabat oleh non-muslim. Hal ini merupakan sesuatu yang mungkin tak pernah terjadi di Amerika Serikat sekalipun, bahwa ada kementerian strategis dipegang oleh muslim selaku minoritas di sana.

Memang, JK lebih tegas dan lebih cepat ketimbang SBY. Kita rindu pemimpin berkarakter seperti itu, alih-alih pemimpin seperti “bebek lumpuh” dan takut mengambil risiko pula. Tapi, kalau yang lebih cepat itu termasuk juga cepat bicara, bukan tak mungkin suatu saat dia memperlihatkan keaslian dirinya. Dan sayangnya keaslian itu justru ngacodan ngawur. Akhir Juni 2006, misalnya, JK pernah membuat pernyataan soal janda-janda di Puncak, Jawa Barat, yang kawin kontrak dengan para lelaki Arab Saudi. Saat itu ia, selaku wakil presiden, tengah berbicara dalam Simposium Strategi Pemasaran Pariwisata di Kawasan Timur Tengah di hadapan para pengusaha turisme. JK berkata: “Kalau ada masalah janda di Puncak, itu urusan lain. Jadi, orang-orang Arab yang mencari janda-janda di kawasan Puncak bisa memperbaiki keturunan. Nanti bisa mendapat rumah kecil, rumah BTN. Ini artinya kan sah-sah saja. Walau kemudian para turis tersebut meninggalkan mereka, ya tidak apa-apa. Karena anak-anak mereka akan punya gen yang bagus bisa menjadi aktor-aktris TV yang cakep-cakep.”

     Kutipan pernyataan JK itu muncul di halaman depan The Jakarta Post. Pembaca harian ini meliputi kaum intelektual, diplomat dan kalangan internasional. Tak pelak, aktivis perempuan pun angkat suara. Sekitar 70 organisasi perempuan, termasuk Fatayat Nahdlatul Ulama, Institut Ungu, Kalyanamitra dan Srikandi Demokrasi Indonesia, langsung menggelar pertemuan media di Jakarta. Kaukus Perempuan -- kumpulan semua legislator perempuan di DPR -- berniat memanggil JK.
Ucapan JK itu ternyata juga dikutip berbagai media internasional, dari yang berbahasa Inggris hingga Mandarin, dari Jerman hingga Arab. Maka, kantor wakil presiden pun segera menggelar pertemuan pers guna meredakan kemarahan orang. Saat itu JK mengakui itu hanya “kelakar”. Ia sama sekali tak punya keinginan merendahkan perempuan. Benarkah? Bukankah apa yang terucap mencerminkan apa yang terpikir? Dan kalau seperti itu pikiran JK, tidakkah itu berarti dia tipikal lelaki peleceh perempuan?

Nah, sekarang mari kita bicara soal toleransi di Indonesia. JK benar bahwa rumah ibadah di mana-mana bertambah. Tapi, apa karena itu lalu rumah ibadah yang sudah sah izinnya bisa direlokasi begitu saja? Apa lantaran itu lalu GKI Yasmin bisa seenaknya saja disegel dan lalu disuruh pindah?
Ini soal hukum Pak JK. Jadi, kalau benar Anda negarawan, bicaralah dalam koridor ini – jangan malah seperti preman yang sering melanggar hukum. Tidakkah Anda paham bahwa Mahkamah Agung, sebagai lembaga pengadilan tertinggi di negara ini, tahun 2009 sudah memutuskan GKI Yasmin berhak atas rumah ibadahnya yang telah memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sejak 13 Juli 2006 itu? Keputusan MA yang telah inkracht (berkekuatan hukum tetap) itu selanjutnya diperkuat oleh Rekomendasi Ombudsman RI tahun 2011, bahwa tindakan penyegelan oleh Wali Kota Bogor Diani Budiarto merupakan sebentuk mal-administrasi. Tidakkah itu lebih dari cukup untuk menjamin secara hukum bahwa jemaat GKI Yasmin berhak atas rumah ibadahnya?

Jadi, Pak JK, kalau mau bicara soal toleransi, jangan abaikan soal hukum. Sebab kalau tidak, saya kuatir yang dibicarakan sebenarnya adalah kompromi atau negosiasi. Itu politik, bukan hukum. Ingat, Indonesia adalah negara hukum (rechtsstaat). Itu berarti, hukum harus menjadi panglima di negara ini. Sekali lagi, kalau benar Anda negarawan, bicaralah dan berbuatkah demi tegaknya supremasi hukum. Salah satu faktor perusak Indonesia dewasa ini kan karena penegakan hukum dan aparat hukumnya berjalan simpang-siur. Bukan begitu, Pak JK?
Nah, soal Jumat kerja Minggu libur, mengapa Anda mengatakan itu sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat Kristen? Lucu sekali. Tidakkah itu merupakan penyesuaian Indonesia kepada dunia internasional yang telah berabad-abad menetapkannya sebagai sesuatu yang konvensional? Ataukah, kalau Anda jadi presiden, Minggu akan Anda jadikan hari kerja sedangkan Jumat hari libur?

Pak JK, saya kira kita harus terbuka menerima hasil pelbagai survei selama ini: bahwa Indonesia memang kian intoleran dari era ke era. Berita dari situs tempo.co(5/6/2012), yang mengutip hasil survei lembaga studi Center of Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan, toleransi beragama orang Indonesia tergolong rendah. “Masyarakat menerima fakta bahwa mereka hidup di tengah keberagaman. Tapi mereka ragu-ragu menoleransi keberagaman,” kata Kepala Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS, Philips Vermonte, dalam diskusi bertajuk “Demokrasi Minim Toleransi”, 5 Juni 2012. Philips mencontohkan, masyarakat menerima kenyataan hidup bertetangga dengan orang yang berbeda agama. Tapi, masyarakat relatif enggan memberikan kesempatan kepada tetangganya untuk mendirikan rumah ibadah. “Ini menunjukkan tingkat toleransi beragama masyarakat ternyata masih rendah,” kata Philips.

     Terkait itu tak heran jika Indonesia menjadi sorotan sejumlah negara dalam Sidang Universal Periodical Review (UPR) 2nd Cycle di Jenewa, 23 Mei 2012. Bukankah fakta bicara bahwa dari era ke era selalu ada saja gereja yang dirusak/ditutup paksa? Bahkan di era SBY (2004-2010), ada sekitar 2.442 gereja yang mengalami gangguan berupa perusakan dan penutupan paksa. Itu baru gereja, belum termasuk rumah ibadah umat lain semisal Ahmadiyah.
Sementara Human Rights Watch (HRW) dalam World Report 2013 menyebutkan, selama 2012 Pemerintah Indonesia gagal membela minoritas agama yang terancam dan para aktivis damai yang dipenjara karena pandangan politik mereka. Sepanjang 2012, menurut HRW, Pemerintah Indonesia kurang mengambil tindakan yang memadai terhadap para militan Islam yang memobilisasi massa untuk menyerang kelompok minoritas agama. Hal senada dikatakan oleh Setara Institute, bahwa serangan terhadap minoritas agama meningkat dari 144 kasus pada 2011 menjadi 264 kasus pada 2012. Puluhan peraturan, termasuk surat keputusan bersama menteri tentang pembangunan rumah ibadah, menyuburkan diskriminasi dan intoleransi.
Jadi, Pak JK, lebih bijaklah jika kita dengan rendah hati mengakui bahwa ada yang salah di negara ini terkait meningkatnya intoleransi dewasa ini. Saya percaya Anda bisa mencari faktor-faktor penyebabnya.

Minggu, 05 Mei 2013

Teladan Kepemimpinan Yoshua

Teladan Kepemimpinan Yoshua.jpg
 “Pilih Tuhan atau Pilih Berhala”, ungkapan lugas, jelas dan tegas dari Yoshua, seperti disebut dalam Yosua 24:14-18. Sebuah ungkapan yang jika ditilik dalam konteks kepemimpinan yang tegas akan mendapat makna luar biasa.  Ketegasan seperti Yoshua perlu juga dimiliki oleh para pemimpin, khususnya pemimpin gereja.  Bukan hal mudah mengambil sikap yang tegas di tengah-tengah bangsa Israel yang sulit diatur.  Apalagi jika melihat sejarah kelam bangsa Israel yang begitu dinamis, penuh dengan perlawanan, pertobatan dan kembali tidak setia terhadap Tuhan yang telah membebaskan mereka.  Tidak cukup sekali, bangsa Israel lari dari Tuhan, jatuh-bangun relasi Israel dengan Tuhan.  Perselingkuhan dengan berhala; berbelok ke kiri ke kanan semaunya; lari dari jalan Tuhan, membuat Tuhan betul-betul murka terhadap mereka. Semua yang terjadi atas bangsa Israel menjadi pembelajaran penting bagi seorang Yoshua dalam kepemimpinananya kelak.  Sejarah moyangnya menjadi hal penting bagi Yoshua untuk mengerti hakikat dari kepemimpinan dalam kebenaran dan kepemimpinan yang tegas. Pemimpin yang tegas seperti diteladankan oleh Yoshua tampak dalam hal-hal berikut:

1. Tegas Pilihan Warnanya
Orang kristen, apalagi dia seorang pemimpin harus benar-benar menentukan dengan jelas “warna” apa yang dia pilih.  Putih, merah, hitam atau abu-abu; menjadi Kristen atau nonkristen, campuran keduanya, atau ada bentuk lain lagi, yang terpenting dan terutama adalah kejelasan warnanya.  Termasuk juga keharusan menentukan warna, apakah gereja sebagai lembaga hendak benar-benar dijadikan sebagai gereja atau perusahaan.  Hal ini penting, sebab gereja seringkali nampak tidak ada bedanya dengan yayasan.  Gereja bahkan tak jauh beda dengan perusahaan. Pengaturan keuangan, posisi keuangan, bagaimana pertanggungjawabannya menjadi penanda kondisi ironi gereja.
Secara filosofis tentu saja hal ini salah kaprah.  Betul, uang memang diperlukan untuk mengelola gereja, tapi tidak sama dengan gereja hidup karena uang.  Jika demikian lalu di manakah Tuhan sang empunya gereja itu.  Masakan Tuhan tidak dapat memperlengkapi gereja dengan cara-Nya.  Karena itu yang diperlukan hanyalah ketaatan kepada Dia dengan sungguh-sungguh, maka Allah pasti akan mengirimkan kebutuhan itu

2. Tegas Posisi
Setiap pelayan Tuhan, entah itu Pendeta, Pengurus atau Majelis gereja perlu benar-benar tegas dalam menentukan posisinya, termasuk tujuan apa yang hendak dituju ketika jabatan itu disandang.  Sebab dengan jabatan itu orang mudah saja mendapuk diri sendiri sebagai Bos atas lainnya.  Sebagai orang penting dalam suatu lembaga seperti gereja mudah saja dia mengatur orang seenaknya.  Pendeta ataupun majelis sesungguhnya adalah pelayan Tuhan.  Sejatinya semua orang, baik itu Jemaat, Majelis pun Pendeta adalah pelayan atas Tuhan, sang pemilik gereja. Dialah Kristus Yesus itu. Maka tidak satu orang pun berhak mengatakan “ini gereja saya, saya yang bangun ini”. Lebih menyedihkan lagi, jemaat, atau orang-orang menganggap ini bukan sebagai hal yang penting.  Bahkan cenderung  permisif, jika itu masih ada dalam naungan kata “pelayanan”, dengan dalih ini dan itu.
Tentu saja hal seperti ini sangat membingungkan.  Bagaimana mungkin hal itu disebut pelayanan jika ketidakbenaran dibiarkan.  Semua orang di dalam naungan sebuah lembaga gereja, atau gereja secara organis adalah pelayan.  Tetapi tidak berarti boleh ada pelayan yang murahan.  Jika di luar sana tidak dapat berbuat apa-apa, tidak diterima di mana-mana, lalu mendadak masuk dalam dunia pelayanan dan berharap diterima.  Melayani sudah sepatutnya dengan baik dan maksimal. Semua melayani dengan profesional, dengan otak yang Tuhan beri.  Juga makasimal dengan harta yang Tuhan perbolehkan kita nikmati.

3. Jelas Tujuan.
Jikalau warna seorang pemimpin sudah tidak jelas, lalu posisinya pun tidak tegas, hendak dibawa kemana kepemimpinan dan orang yang dipimpin? Maka tidak perlu heran jika di kemudian hari tujuannya pun melenceng, lalu muncul kesulitan, bahkan menghadapi banyak benturan.  Nasi sudah menjadi bubur.  Sudah terlanjur. Menghadapinya tak perlu kemudian menjadi cengeng, kompromisitis, apalagi menjadi bunglon.
Sadar atau tidak, tanpa tujuan yang jelas, pemimpin justru membawa gereja menjadi bunglon, menjadi mirip dengan dunia.  Meng-copy-paste tradisi dunia bahkan menjadi sesuatu yang lumrah saja.  Bagaimana orang dunia menyanyi, itu yang ditiru.  Bedanya hanya ada pada liriknya saja.  Di dunia sana liriknya bicara tentang diri, tentang aku dan kekuatanku, di sini, gereja berbicara tentang Yesus Tuhanku. Padahal, sebetulnya spirit yang berlaku sama saja.  Semua sama-sama mencari kenikmatan diri semata, tanpa memikirkan kesejatian pujian adalah menyenangkan Tuhan.  Tujuan Gereja secara umum adalah menyenangkan Tuhan, bukan menyenangkan diri.  Saya ke gereja untuk menyenangkan Tuhan, dan bukan malah meminta untuk disenangkan, dipenuhi kebutuhan psikologis dan emosinya. Menghadapi kondisi ketidak-jelasan tujuan diperlukan teladan pemimpin dan kepemimpinan ala Yoshua. 
Yoshua dengan tegas menantang seluruh Israel, memilih berhala atau Allah.  Memilih cara dunia atau cara Kristus.  Tuhan bagi Yoshua tidak boleh dinomorduakan.  Maka dengan tegas dia berkata: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN”.  Patut diacungi jempol apa yang dilakukan oleh Yoshua.  Pilihan tegasnya didasarkan pada kesadaran yang mendasar, bahwa hidupnya dan keluarganya adalah benar-bbenar seutuhnya milik Allah.  Hidup untuk melayani Allah.  Bukan sekadar pilihan sikap basa-basi semata, tapi benar-benar Yoshua tunjukkan dalam sikap hidupnya.  Untuk itu, sebuah ketegasan perlu sikap hidup yang benar. Tidak ada cacat-cela yang dikemudian hari dapat ditunjukkan orang.
Dari pilihan sikap dan ketegasan Yoshua ini dapat dipetik prinsip penting, bahwa perilaku yang sejalan dengan kebenaran yang dihidupi memberikan keberanian pada orang untuk bersikap tegas. Dan Yoshua sudah melakukannya dengan jeli, dengan hebat.  Sebab tuntuttan Alkitab benar-benar sudah gamblang  dan jelas “jangan serupa dengan dunia ini”. 
Oleh: Pdt. Bigman Sirait