Selasa, 28 Mei 2013

The Power Of Delegation


handover1.jpg
 Boyle’s law:
If uncontrolled, work always flows to the most competent person until he submerges.

Yitro, seorang imam dari Median, adalah mertua Musa. Mendengar Musa telah membawa keluar bangsa Israel dari Mesir, dia membawa anaknya Zipora - istri Musa - dan dua anak mereka – Gersom dan Eliezer, kepada Musa. Tidak lama Yitro melihat bagaimana Musa bekerja dalam memimpin bangsa Israel. Rakyat seharian berdiri di hadapan Musa, menunggu bertemu Musa yang sendirian ‘menghakimi’ mereka, satu demi satu.
Yitro memiliki hikmat seorang pemimpin modern. Dia melihat cara Musa ini ‘tidak baik’. Rakyat kecapean dan Musa juga, bahkan bisa stres dan ‘burnout’. Cara pekerjaan yang ‘one man show’ ini jelas menjengkelkan banyak orang yang harus menunggu lama untuk suatu pelayanan yang mungkin sebentar saja. Pelayanan yang tidak efisien, tidak selesai-selesai karena persoalan baru terus saja timbul.
Bagi sang pemimpin, kehabisan waktu terus-menerus akan mengancam hubungan dia dengan orang-orang terdekatnya, yaitu dengan pasangan, dengan anak-anak dan teman-temannya. Dan cara demikian dapat dipastikan akan mengancam kesehatannya, baik kesehatan emosi maupun fisik.
Melihat itu Yitro kemudian memberikan suatu nasehat, yang dalam manajemen modern sekarang dikenal dengan ‘delegasi’.  Suatu definisi mengatakan delegasi adalah memberkan tugas yang berarti, baik operasional maupun manajemen, kepada orang lain dengan supervisi dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu delegasi adalah suatu proses, bukan suatu kejadian; suatu metode atau cara, bukan suatu tujuan; dan merupakan suatu investasi jangka panjang pengembangan orang bukan suatu strategi jangka pendek.
Dalam suatu tim, mengapa banyak pemimpin tidak melakukan strategi delegasi ini, ketika manfaatnya begitu jelas. Kalau tidak karena ketidaktahuan, banyak pemimpin yang ‘merasa’ tidak ada waktu untuk mempersiapkan orang lain. Wajar dia merasa dapat melakukan pekerjaan itu lebih baik dan lebih cepat. Sadar atau tidak, seorang pemimpin yang tidak merasa aman bisa merasa takut kehilangan penghargaan dan nama karena digantikan oleh orang lain. Bisa jadi dia memiliki interest pribadi yang sempit, seperti menciptakan ketergantungan pada dirinya. Banyak pemimpin takut kehilangan kontrol dan kekuasaan dalam organisasi ketika membayangkan orang-orang lain bisa menggantikan dirinya.
Ketika pendelegasian dalam suatu organisasi tidak terjadi, dapat dipastikan dengan bertambahnya volume pekerjaan, penyelesaian pekerjaan akan lama, kualitas pekerjaan menurun, dan pelayanan pelanggan merosot. Krisis mudah terjadi, pekerja atau pemimpin mengalami burnout. Staf lain merasa tidak berkembang dan semangat bekerja lemah. Karena tidak terjadi pengembangan staf internal, tidak terjadi promosi yang efektif. Kebutuhan tenaga yang handal dilakukan melalui rekrutmen dari luar. Banyak staf yang potensi keluar mencari tempat yang lebih menawarkan tantangan.
Dalam kasus Musa, pertama Yitro menyadarkan masalah prioritas Musa, yaitu hubungan dengan Allah. Daripada terus-menerus melakukan koreksi, dia menyarankan kepada Musa agar mengajar kepada rakyat hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang rakyat perlu ketahui. Untuk meng-handle pekerjaan mengadili rakyat Israel yang banyak itu, Yitro menyarankan Musa merekrut sejumlah pemimpin yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya dan benci pengejaran suap Keluaran 18:21).
Kepada mereka perlu diberikan otoritas untuk memimpin, ada yang atas 1000 orang, 100 orang, 50 orang, atau 10 orang. Dia harus ‘mendelegasikan’ tanggung jawabnya, meminta pertanggunganjawab para pemimpin itu, dan sudah barang tentu harus juga berbagi apresiasi orang dan berkat dari pelayanan itu.
Pendelegasian itu tidak untuk membuat Musa santai tapi agar dia memiliki waktu untuk mengerjakan tanggung-jawabnya, yaitu mengerjakan persoalan-persoalan yang sulit. Sang pemimpin tetap bertanggung jawab terhadap misi kelompok, karena itu dia wajib mendukung tim dan memonitor pengerjaan tugas.
Mendelegasi adalah untuk menggunakan sumberdaya yang ada. Dengan pembagian tugas yang baik, akan mencegah terjadinya burnout pada orang tertentu. Melalui pendelegasian akan terjadi pengembangan skill dan kepemimpinan dalam organisasi. Setiap orang merasa menjadi bagian tim dan keberhasilan sehingga mereka lebih memiliki komitmen. Dengan demikian pekerjaan dapat diselesaikan dalam time-frame-nya. Ketika banyak orang terlatih, maka ini mencegah ketergantungan kepada orang tertentu. Dengan demikian menjadikan kelompok yang kuat.
Bagaimana melakukan delegasi yang efektif? Seorang pemimpin yang mendelegasikan suatu tugas seyogyanya memilih orang yang tepat dan memandang sebagai bagian dari pengembangan diri orang itu. Dia perlu memberitahukan dengan jelas tugas yang didelegasikan, tujuan pekerjaan dan standar kinerja yang diharapkan, termasuk waktu yang tersedia. Sang pemimpin perlu memastikan bahwa dia memahami tugas yang diberikan. Berikan otoritas yang sesuai dengan tanggung jawab, apakah atas pengeluaran anggaran, penggunaan tim, dan sebagainya. Berikan dukungan yang dibutuhkan untuk penyelesaian tugas.Tetapkan titik-titik kontrol dalam periode pengerjaan tugas. Monitor pelaksanaan secara periodik. Apapun hasilnya sang pemimpin perlu memberikanfeedback, be-rupa apresiasi dan, kalau perlu, pembelajaran ke depan.
Tuhan Yesus memberkati !

Sabtu, 25 Mei 2013

Mengkhianati Indonesia


Mengkhianati Indonesia.jpg
Victor Silaen
Tan hana dharma mangrwa, bhineka tunggal ika (Mpu Tantular)

KITA boleh berbangga karena Indonesia, pada 12 November 2007, dipuji oleh sebuah asosiasi konsultan politik internasional (International Association of Political Consultants/IAPC) sebagai negara demokratis. Namun di sisi lain kita prihatin karena Indonesia hari ini sedang berjalan menuju negara gagal. Dalam berita tentang Indeks Negara Gagal versi lembaga riset nirlaba The Fund For Peace, bekerja sama dengan Foreign Policy, 20 Juni lalu, disebutkan bahwa Indonesia masuk dalam kategori negara yang sedang dalam kondisi bahaya (in danger) karena berada pada posisi ke-63. Antara lain penyebabnya adalah praktik korupsi yang sedemikian akut dan peristiwa-peristiwa kekerasan karena intoleransi yang kerap terjadi.
Korupsi yang kian mengganas dan merajalela, jika tak mampu diberantas sampai ke akar-akarnya, cepat atau lambat niscaya membangkrutkan Indonesia. Untuk itu bukan hanya KPK yang harus lebih berani dan serius, tapi juga pelbagai komponen bangsa ini harus bahu-membahu bekerja sama memerangi korupsi. Sekedar imbauan untuk KPK, mengapa baju untuk terdakwa koruptor yang dihadirkan di depan pengadilan tidak dipilih yang berwarna saja? Biar lebih ngejreng gitu loh. Biar efek malunya lebih besar, ketimbang bajunya berwarna putih.

Sedangkan masalah intoleransi, peristiwa yang teranyar terjadi pada 26 Agustus lalu di Sampang, Madura, antara kelompok Sunni dan Syiah, setelah sebelumnya juga pernah terjadi pada 29 Desember 2011. Dalam peristiwa beberapa minggu lalu itu tercatat jumlah korban yang tewas satu orang, tapi rumah yang terbakar sebanyak 27 unit. Sementara, di Hari Lebaran lalu, terjadi aksi massa yang menyerang Tarekat At Tijaniyah Mutlak di Kampung Cisalopa, Desa Bojong Tipar, Jampang Tengah, Sukabumi, Jawa Barat, yang menewaskan empat korban. Untuk tragedi kedua ini, herannya, mengapa tak heboh?
Intoleransi juga merupakan akar bagi bertumbuh suburnya kelompok-kelompok terorisme di Tanah Air yang hari-hari ini bermunculan kembali, baik di Solo, Jakarta dan Depok. Inilah yang membuat kita miris dan bertanya kuatir: mampukah Indonesia bertahan sebagai negara-bangsa yang satu? Mungkin saja mampu, dalam arti Indonesia tak akan bubar seperti Uni Soviet. Namun, Indonesia hanya akan berjalan di tempat alih-alih semakin mundur. Betapa tidak. Di seputar Pilgub DKI 2012, khususnya menjelang Putaran II lalu, bertebaranlah hasutan (baik secara lisan maupun tulisan) untuk tidak memilih salah satu kandidat pemimpin lantaran latar belakang suku dan agamanya.
Mari kita bicara terbuka saja. Di sebuah metromini, di bagian belakangnya, ada sebuah tulisan berwarna hitam berukuran besar berbunyi begini: ”Waspada Cina...”  Sementara seorang penyanyi dangdut terkemuka, dalam sebuah wawancaranya baru-baru ini, menyinggung-nyinggung soal pribumi dan non-pribumi, juga Cina Kristen, dengan nuansa yang sangat pejoratif (bersifat memojokkan) terhadap non-pribumi dan Cina Kristen itu.

Mari kita bertanya kritis tentang beberapa hal berikut. Pertama,  apakah makna ”pribumi” itu yang sesungguhnya? Harap dipahami bahwa istilah ini muncul di era kolonialisme Belanda sebelum Indonesia merdeka untuk menunjuk suku-suku bangsa di wilayah Hindia Belanda (kecuali Eropa, Arab, Cina, dan India) yang mereka anggap berkarakter ”bodoh, bebal dan pemalas”. Dengan pengertian itu, setelah Indonesia merdeka, adakah manfaatnya bagi kita mempertahankan istilah tersebut? Jawabannya jelas ”tidak ada” dan atas dasar itu kita harus menghapuskannya dari perbendaharaan kosakata kita sehari-hari. Kalau istilah ”pribumi” dihapus, dengan sendirinya istilah ”non-pribumi” pun demikian. Jadi, yang ada sekarang adalah ”Warga Negara Indonesia” (WNI) atau ”Warga Negara Asing” (WNA). Itu saja penggolongannya.
Lantas, siapa itu ”Cina”? Ini pun mengherankan, sekaligus menunjukkan bahwa orang-orang yang mengucapkannya kurang berwawasan. Harap diketahui bahwa Cina itu adalah suatu bangsa yang bermukim di ”negeri tirai bambu” Cina, yang negaranya bernama Republik Rakyat China (RRC). Sebenarnya ada satu lagi bangsa Cina, yakni Taiwan, yang sudah lama memisahkan diri dari RRC tapi masih diklaim sebagai bagian dari bangsa Cina.

Keturunan Cina di Indonesia memang ada, tapi mereka secara antropologis telah menjadi salah satu suku di antara ratusan suku di Indonesia. Jadi, mereka harus kita golongkan sebagai suku Tionghoa dan mereka tidak identik dengan Cina. Sebab mereka itu WNI, yang menurut UU No. 12 Tahun 2006 (tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia) termasuk sebagai “Indonesia Asli” apabila sejak kelahirannya telah menjadi WNI dan tak pernah menerima atau menggantinya dengan kewarganegaraan lain. Jadi, untuk penyebutannya, tidak perlu juga menggunakan istilah “keturunan” di depan Tionghoa (“keturunan Tionghoa”). Cukup Tionghoa saja. Lagi pula, apa artinya keturunan? Tidakkah kita semua juga merupakan keturunan dari nenek-moyang kita?       
Bung Karno, salah satu pendiri bangsa dan presiden ke-1 Indonesia, pernah berkata: “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah” (Jas Merah). Ia benar. Sebab, hari ini kita jalani karena hari kemarin, dan hari esok kita jelang karena hari ini. Atas dasar itu maka ingatlah beberapa momentum sejarah yang sangat penting maknanya bagi kita hari ini.

Pertama, Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw, Weltevreden (kini Gedung Sumpah Pemuda, Jalan Kramat 106), Jakarta, milik seorang Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Saat itu para tokoh pemuda dari berbagai suku dan daerah mengucapkan tiga ikrar bersama: ikrar kesatuan berdasar tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu. Secara politik, bukankah saat itu merupakan kelahiran Indonesia sebagai satu bangsa baru? Sejak itulah pergerakan para pemuda kian menemukan arah yang jelas dalam perjuangannya mencapai Indonesia Merdeka. Jadi, mengapa setelah usia kemerdekaan mencapai 67 tahun kita masih menggolong-golongkan anak-anak bangsa sendiri sebagai ”pribumi” dan ”non-pribumi”?
Kedua, dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Ingatlah proses bagaimana ideologi bangsa ini disahkan pada 18 Agustus 1945. Sebelumnya, ada Pancasila “versi yang lain”, yakni Pancasila berdasarkan pidato Soekarno (1 Juni 1945) dan Pancasila versi Piagam Jakarta (22 Juni 1945). Sehari setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno sendiri, saat berpidato di depan sidang BPUPKI, mengatakan begini: “Kita bersama-sama mencari persatuan philosophische grondslag, mencari satu weltanschauung yang kita semua setuju. Saya katakan lagi, setuju! Yang Saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang Saudara Sanusi setujui, yang Saudara Abikoesno setujui, yang Saudara Lim Koen Hian setujui. Pendeknya kita mencari semua satu modus. Tuan Yamin, ini bukancompromise, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui.” Harap digarisbawahi, saat itu ada juga seorang Tionghoa (Lim Koen Hian) yang dimintakan juga persetujuannya oleh Soekarno.

Ketiga, khususnya terkait Jakarta, jangan lupakan bahwa keberadaan Batavia (nama Jakarta dulu) tak bisa lepas dari peranan beberapa orang Tionghoa, antara lain Souw Beng Kong, Khouw Kim An, Phoa Beng Gan, dan Nie Ho Kong. Mereka adalah para pembesar Tionghoa yang punya andil besar membangun kota baru Batavia di era kolonialisme Belanda abad ke-17. Itu sebabnya ia kelak diberi gelar Kapiten.
Sungguh, kita patut berduka atas situasi Indonesia hari-hari ini yang kian tak ramah terhadap perbedaan. Banyak orang -- termasuk politisi, pejabat negara, dan elit-elit lainnya -- yang kini mulai mengkhianati Indonesia. Istilah-istilah diskriminatif seperti “pribumi” dan “non-pribumi”, “Cina Kristen” juga “kafir”, dengan gampang dan sembarangan dibawa-bawa ke ranah politik. Tidakkah mereka sadar bahwa strategi politik busuk seperti itu dapat memunculkan segregasi di masyarakat?
Akankah “bhineka tunggal ika” tinggal semboyan belaka? Indonesia sejak dulu sudah sangat pluralistik, dan karenanya toleransi menjadi kebutuhan mutlak. Karena itulah, tak bisa tidak, kita harus menerima dan menghargai perbedaan dengan lapang-dada. Ingatlah dan camkanlah bahwa para pendiri bangsa Indonesia hanya pernah bersumpah satu di dalam tiga ikatan: nusa, bangsa, dan bahasa. Di luar itu kita bebas untuk berbeda.

Akhirnya saya ingin mengimbau agar instansi-instansi pemerintah di bidang pendidikan mengevaluasi kembali kurikulum pendidikan bagi para siswa, mulai dari tingkat dasar sampai menengah umum. Mata pelajaran sejarah, khususnya yang berkait dengan kepahlawanan, harus direvisi demi transmisi nilai-nilai patriotisme kepada generasi muda. Generasi muda harus paham bagaimana proses dan lika-liku perjuangan menjadi Indonesia. Agar ke depan mereka tak sekali-kali berkhianat kepada Indonesia.
 


Kamis, 23 Mei 2013

Pengetahuan VS Agama


106.-Opini-2.jpg
ALLAH menciptakan dunia dalam kondisi kosong dan hanya ada kegelapan di sekitarnya. Lalu Allah membuat langit dan bumi serta cakrawala hingga terbentuklah suatu galaksi yang dinamakan galaksi Bima Sakti. Di dalamnya terdapat berbagai macam tata surya antara lain yaitu meteor, bintang, bulan, komet, planet dan masih banyak lagi. Kemudian Allah memisahkan antara gelap dengan terang, dan menciptakan makhluk hidup: manusia, tumbuhan, dan hewan. Semua ciptaan Tuhan ini sangat menakjubkan. Manusia adalah ciptaan terindah dan paling berharga di mata Tuhan. Pernyataan di atas adalah sebagian kecil dari ilmu penge-tahuan yang telah ditelaah oleh para ilmuwan yang telah melakukan eksperimen dan memberi kita bukti sehingga kita mempercayainya. Tidak hanya itu saja namun banyak sekali ilmu yang sudah tertanam dalam otak kita mengenai apa saja yang ada dalam dunia ini. Banyak sekali hal yang telah dibuktikan para ilmuwan dengan hasil penemuannya. Bahkan segala sesuatu yang telah Tuhan ciptakan, di mana manusia tidak punya andil dalam pembuatannya, dibuat seolah-olah tidak ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Contoh, pernyataan seorang ilmuwan bahwa penciptaan manusia tidak ada hubungannya dengan Tuhan, namun manusia terbentuk dari seekor kera yang telah berevolusi, mulai fase membungkuk dalam wujud kera hingga mencapai fase tegak dalam wujud seorang manusia. Di sisi lain, ajaran agama tertentu mengatakan bahwa manusia dibentuk dan diukir tangan Tuhan Yang Mahaesa, dan Dialah yang menghembuskan napas kehidupan itu bagi manusia. Kedua per-nyataan tersebut sa-ngat bertentangan. Perbedaan tersebut menimbulkan bebera-pa pertanyaan: “Mana yang harus kita yakini? Lalu bagaimana kita harus memperca-yainya? Apakah benar ilmu pengetahuan itu bertentangan de-ngan agama?
Sebelum menja-wab, mari kita me-ngetahui terlebih dahulu apa ilmu pengetahuan dan agama. Ilmu meru-pakan kumpulan pe-ngetahuan yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Batas penjelajahan ilmu sempit sekali, hanya sepotong atau sekeping saja dari sekian permasalahan kehidupan manusia, bahkan dalam batas pengalaman manusia itu, ilmu hanya berwenang menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan. Demikian pula tentang baik buruk, semua itu termasuk ilmu yang berpaling kepada sumber-sumber moral.
“Ilmu tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta,” kata Einstein. Kebutaan moral ilmu, bisa saja membawa kemanusiaan ke jurang malapetaka. Relativitas atau kenisbian ilmu pengetahuan bermuara kepada filsafat, dan relativitas atau kenisbian ilmu pengatahuan serta filsafat bermuara kepada agama. Filsafat adalah “ilmu istimewa” yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab ilmu pengetahuan karena masalah-masalah itu berada di luar atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk dapat memahami dan mendalami secara radikal integral daripada segala sesuatu yang ada mengenai: a) hakikat Tuhan, b) hakikat alam semesta, dan c) hakikat manusia termasuk sikap manusia terhadap hal tersebut sebagai konsekuensi logis daripada pahamnya tersebut.
Kebenaran ilmu pengetahuan ialah kebenaran positif. Kebenaran filsafat ialah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiri, riset, eksperimen). Kebenaran ilmu pengetahuan dan filsafat keduanya nisbi (relatif). Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan penyelidikan, penga-laman (empiri) dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara mengelanakan atau mengembarakan akal budi secara radikal (mengakar), dan integral (me-nyeluruh) serta universal (mengalam), tidak merasa terikat oleh ikatan apa pun, kecuali ikatan ta-ngannya sendiri yang disebut ’logika’ manusia dalam men-cari dan mene-mukan kebenaran dengan dan dalam agama, dengan jalan mempertanyakan pelbagai masalah asasi dari suatu kepada kitab suci, kondifikasi Firman Allah untuk manusia.
Di setiap agama, paling tidak ditemukan empat ciri khas. Pertama, adanya sikap percaya kepada Yang Suci. Kedua, adanya ritualitas yang menunjukkan hubungan dengan Yang Suci. Ketiga, adanya doktrin tentang Yang Suci dan tentang hubungan tersebut. Keempat, adanya sikap yang ditimbulkan oleh ketiga hal tersebut.
Agama memang tidak mudah diberi definisi, karena agama mengambil berbagai bentuk sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing. Meskipun tidak terdapat definisi yang universal, namun dapat disimpulkan bahwa sepanjang sejarah manusia telah menunjukkan rasa “suci”, dan agama termasuk dalam kategori “hal yang suci”. Kemajuan spiritual manusia dapat diukur dengan tingginya nilai yang tidak terbatas yang diberikan kepada obyek yang disembah. Hubungan manusia dengan “yang suci” menimbulkan kewajiban, baik untuk melak-sanakan maupun meninggalkan sesuatu.
Ilmu pengetahuan dan agama sebenarnya bukanlah suatu perbedaan yang perlu diperde-batkan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta keunikan tersendiri. Tidak ada faedahnya apabila kita memper-debatkan antara ilmu pengetahuan dan agama karena hal itu hanya berdampak sia-sia.  Sesungguhnya hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama tidak perlu dipersoalkan karena itu semua kembali pada diri kita sendiri. Kita diberi kehendak bebas oleh Sang Pencipta bukan untuk memilih suatu pilihan yang hanya digunakan sebagai bahan perbandingan  kemudian diper-debatkan untuk hal yang sia-sia. Kita berhak untuk mempercayai ilmu pengetahuan begitu pula dengan keberadaan agama. Itu semua tergantung kepada iman kepercayaan kita masing-masing.
Jadi, apa pun yang kita yakini, itu merupakan hak kita karena kepercayaan bukanlah suatu paksaan melainkan suatu dorongan yang timbul dengan sendirinya dan menjadi rema dalam hidup kita.

 Gonita Magdalena
Universitas Ma Chung, Malang, Jawa Timur.