Senin, 20 Agustus 2012

Lima Pantangan Bagi Pemimpin


Pantangan, Pemimpin.jpg

“Siapa bijak hati, memperhatikan perintah-perintah, tetapi siapa bodoh bicaranya, akan jatuh. Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui. Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh.” (Amsal 10:8-10)

Inti dari ayat ini adalah bijaksana dan kelakuan yang bersih, merupakan prinsip yang harus diperhatikan dalam membangun kehidupan.  Membangun seluruh kemampuan kita dalam melayani Tuhan melalui kepemimpinan.  Untuk dapat memperoleh kebijaksanaan dan memiliki kelakuan yang bersih, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjauhi dan tidak melakukan apa yang menjadi pantangan bagi pemimpin. 

Pantangan pertama, adalah  “Jangan Mengangap Diri Paling Pintar”.  Seorang pemimpin ketika menganggap paling pintar, paling “jago”, paling banyak belajar, muaranya akan meremehkan orang-orang di sekitarnya.  Pemimpin model ini sangat bangga dengan tumpukan gelarnya, sehingga tidak lagi mampu melihat siapa dirinya.  Banyak orang mempunyai kemampuan yang tinggi, mungkin lantaran belajar di sekolah, menjadi pintar. Tapi kalau dia tidak bisa bijaksana untuk belajar dari luar lingkungannya, dia hanya akan menjadi orang pintar, tapi tidak menjadi orang yang bijaksana.  Kendati seluruh ilmu itu tetap akan menumpuk di otaknya, dia tidak akan mampu mengaplikasikan dalam kehidupan.  Bahkan mungkin akan menjadi orang yang paling gagal dalam relasi sosialnya.  Pemimpin yang menggap diri paling pintar, paling tidak mau belajar, apalagi belajar realita orang yang dipimpinnya. Pemimpin seperti ini akan gampang jatuh nanti.  Pintar adalah sesuatu hormat yang boleh dikejar dan capai, tapi merasa paling pintar itu menjadi berbahaya. 

Pantangan kedua “Jangan Menganggap Diri Paling Benar.” Seorang pemimpin yang menganggap diri paling benar membuat telinganya tertutup, sehingga tidak mau mendengar.  Begitu dia mempunyai satu keyakinan yang kokoh dan gigih, itu yang dipegangnya dan dianggap paling benar.  Keyakinan adalah suatu hal yang terhormat, yang penting, tapi belajar mendengar dan membandingkan semua informasi juga tak kalah penting.  Jangan pula selalu menganggap paling benar apa yang kita simpulkan, lalu menutup pintu pada simpulan lainnya.  Anda mungkin di atas sebagai pemimpin, tapi bukan berarti anda adalah segala-galanya.  Bukan berarti anda adalah yang paling benar.  Bisa jadi pendapat yang paling benar itu justru ada dibawah. 
Kelemahan yang umum dialami seorang pemimpin adalah soal menjadi paling, paling dan paling, karena merasa ada di atas.  Merasa ditiup angin, merasa segala-galanya.  Merasa paling tinggi, merasa paling pintar, dan pasti merasa paling benar.  Ini juga kerap dialami oleh para Ayah dan ibu, orang tua yang paling merasa paling pintar, sehingga merasa paling benar.  Orang tua paling benar, sehingga anak dicap selalu salah. 

Pantangan ketiga, “jangan menganggap diri paling hebat”, sehingga tidak mau bersahabat.  Mungkin anda mempunyai banyak pengalaman, tapi ingatlah, manusia adalah manusia di dalam segala keterbatasannya. Manusia sangat bergantung terhadap apa yang terjadi hari ke hari, sekalipun dia pintar, sekalipun dia benar, sekalipun dia hebat.  Ada satu istilah, kalau dia berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah, habislah dia,  sekalipun dia kurang pintar, kurang benar, kurang hebat, tetapi dia ada di tempat yang benar pada waktu yang benar, beruntunglah dia.  Artinya orang sangat bergantung pada situasi di mana dia berada.  Hari ini anda beruntung, hari ini anda sukses, mungkin besok anda gagal. Orang  yang merasa diri paling hebat, sehingga tidak mau bersahabat, itu namanya memiliki bakat kesombongan yang tinggi.  Tapi memang itulah habit dasar manusia, tidak pernah mau menjadi nomor dua.  Orang seperti ini disebut dengan manusia kecap, orang yang tidak pernah mau menjadi nomor dua.  Tidak jarang hal seperti ini ditemui dalam bidang kerohanian, kegerejaan.  Mereka merasa paling pintar, paling benar dan paling hebat, karena merasa paling dekat dengan Tuhan, maka merasa sangat dekat dengan kebenaran.  Kalimat “Tuhan bilang, Tuhan bilang” sering juga mewarnai.  Terlau mudah mengklaim apa yang dia katakan adalah apa yang dikatakan Tuhan.  Padahal, itu murni dari pikiran atau dari nafsunya.  Dan sayangnya lagi, jemaat cuma melihat lalu mengangguk-angguk.  Namanya juga pendeta, tidak mungkin berkata salah, beitu dalihnya.  Dengan sikap seperti ini orang membunuh dua sekaligus.  Membunuh diri, bunuh akal sehat, membunuh kebenaran dan keadilan yang harusnya dapat dipertanggungjawabkan,  juga “membunuh” pula pendeta yang berbicara salah, berbicara ngawur itu.  Karena kita membuat dia semakin mengambang ke tinggi.  Semakin merasa paling pintar, paling hebat, paling benar, karena anggukan kepala jemaat tanpa sedikitpun protes, sanggahan, anda mengaminkan seluruh apa yang dikatakan.  Itulah yang sedang terjadi di sekitar kepemimpinan kristen.

Pantangan keempat “jangan menganggap diri paling tahu”, sehingga enggan bertanya.  Banyak pemimpin yang gengsi, enggan bertanya, karena berpikir, kalau dia bertanya akan terihat bahwa dia tidak tahu.  Lalu kawatir kalau orang tidak lagi hormat padanya lantaran ketidaktahuan.  Karena itu, walaupun tidak tahu dia merasa tahu.  Terkait hal ini pepatah dunia sudah sangat jelas, “malu bertanya, sesat di jalan”.  Malu bertanya, hancur kepemimpinan.  Orang musti berani bertanya.  Karena bertanya adalah bagian dari belajar yang sangat luarbiasa, menambah ilmu pengetahuan dan memperlengkapi kemampuan.  Bagi seorang pemimpin harus mempertanyakan apa yang ada di sekitarnya, orang yang dipimpin, situasi ketika dia memimpin, juga lingkungan seperti apa.  Bahkan dia harus berani bertanya, apakah orang suka dengan cara dia memimpin.  Pemimpin musti belajar bertanya apakah keputusan-keputusannya bijaksana. 

Pantangan kelima, “jangan menganggap diri paling bisa”, sehingga kita tidak mau mengalah, “apapun saya bisa”.  Jangan pernah mengajari bagaimana jemaat menyanyi, kalau jemaat itu semua adalah anggota koor.  Sementara anda sebagai pemimpin, menyanyi pun masih fals.  Merasa selalu paling bisa, itu adalah godaan yang paling hebat bagi seorang pemimpin.  Apapun, dia harus bisa.  Paling tidak ditunjukkan pada kata-katanya.  Padahal, dia tidak bisa melakukannya.  Pemimpin tidak perlu menutupi seluruh kelamahan dengan kalimat-kalimatnya, padahal kosong di dalam.  Tapi yang namanya pemimpin harus paling bisa.  Harus paling luar biasa bukan? Itu membuat dia enggan mengalah dalam berpendapat.  Ngotot harus dia yang menang.  Padahal itu adalah sebuah kekalahan yang fatal pada diri seorang pemimpin.  Pemimpin seyogyanya tidak menilai diri sendiri menurut apa yang rasanya mampu ia lakukan.  Karena orang lebih menilai menurut apa yang telah dikerjakan.  Jadi, jangan menilai diri menurut apa yang rasanya mampu.  Sebab “rasanya” itu banyak jumlahnya.  Karena natur (alaminya) orang itu merasa paling pintar, paling benar, paling hebat, paling tahu, dan paling bisa.  Padahal orang lain menilai bukan apa yang kita rasakan, tapi apa yang dikerjakan, dan capai.  Itu ukuran sederhana. 
Untuk kita renungkan bersama, bahwa apa yang telah dipaparkan, terkait pantangan bagi pemimpin ini sebenarnya telah menjadi kebiasaan orang pada umumnya.  Paling pintar, paling hebat, paling benar, paling tahu, paling bisa, bukankah itu juga perasaan seorang Ayah? Sehingga, ketika anaknya salah, dia marah luar biasa. Sebaliknya, waktu sang Ayah salah, susah betul untuk minta maaf.  Sering ngotot, merasa superior, dan serba nomor satu.  Pola yang sama juga terbawa ke dalam lingkungan kerja, terbawa kepada lingkungan berjemaat, tak heran kalau kemudian orang menikmati hubungan atas-bawah (pemimpin-bawahan).  Kita sebagai atasan dan yang lain bawahan, sehingga gemar menindas, enggan belajar, tidak pernah mau mendengar, tidak pernah mau bersahabat, tidak pernah mau bertanya, apalagi mengalah.  Ini persis seperti orang yang sudah hipertensi, kolesterol tinggi, tinggal menunggu ledakan besar, strouk, pembuluh darah pecah, dan akhirnya sampai jumpa.  Kalau mau selamat, mau baik, maka jangan langgar pantangannya.  Jangan mengonsumsi hal yang membahayakan diri,  jangan rasa paling pintar, paling benar, paling hebat, dan jangan pula rasa paling tahu dan paling bisa. 

Selasa, 31 Juli 2012

DIMANA PERBEDAAN ISLAM DAN KRISTEN?


Islam-and-Christianity.jpg
Apakah Tuhan orang Kristen dan Islam berbeda? Karena sering kita mendengarkan begitu.  Padahal mereka percaya pada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ini.  Sebenarnya kesalahan ini dari mana? TRITUNGGAL yang diyakini orang Kristen, itu membingungkan mereka, tapi bukan berarti mereka tidak percaya pada Allah yang telah menciptakan mereka.  Mengenai Nabi Muhamad yang adalah nabi yang diikuti ajarannya, apakah karena itu terjadi perbedaan keyakinan yang lebih mendalam?  Bagaimana kita membangun persamaan akan keyakinan pada Allah, supaya merekapun bisa memahami TRITUNGGAl itu?  Tak dapat disangkal bahwa perbedaan agama seringkali menjadi sumber konflik berkelanjutan.  Padahal, jika kita mau jujur terhadap diri, dan keyakinan yang kita pahami, tak ada agama yang mengajarkan konflik.  Jikapun ada ruang, pada umumnya itu ada dalam konteks pembelaan diri.  Untuk soal Islam dan Kristen, mari kita urai satu-persatu.

1. Jika pertanyaannya menyangkut apakah agama Islam dan Kristen berbeda, maka jawaban sudah jelas, berbeda.  Namanya sudah menunjukkan perbedaannya.  Di Indonesia saja kita mengenal lebih dari satu agama dengan masing-masing pengikutnya.  Semua agama memiliki keunikannya, dan menjadi iman pengikutnya.  Dalam dialog antar umat beragama, kita mencari persamaan yang mungkin disinergikan dalam rangka hidup bersama dalam kedamaian.  Namun soal keunikan dalam keberimanan, tak mungkin disamakan.  Itu sebab diperlukan kedewasaan umat  dalam hidup diperbedaan, untuk mencapai kebersamaan.

2. Namun jika pertanyaanya menyangkut isu teologis, seperti soal Tuhannya sama atau beda, perlu pemahaman yang jernih.  Mari kita lihat agama Kristen dulu.  Ada dua bagian besar di sana yaitu, Katolik dan Protestan.  Keduanya ber Tuhan yang sama, namun ada perbedaan dalam memahami Tuhan yang sama.  Ini kita sebut sebagai sudut pandang teologis.  Namun lebih lanjut, di kalangan Protestan sendiri terdapat perbedaan pandang, tergantung dari denominasinya.  Jadi kekayaan pandang yang ada sangat variable.  Perlu pengkajian mendalam.

3. Sebuah contoh perbedaan yang tajam di antara Kristen Protestan Injili dan Liberal.  Bagi umat Kristen injili, Yesus Kristus adalah Tuhan yang juga manusia (Inkarnasi).  Sementara bagi yang Liberal, Yesus Kristus bukan Tuhan, Dia murni manusia biasa dengan moral yang sangat tinggi. Bukankah ini perbedaan yang bertolak belakang?  Tapi inilah kenyataan perbedaan teologis yang terjadi di lingkungan Protestan sendiri.  Bisa dibayangkan dengan agama-agama lainnya.

4. Sekarang kita mulai memperhatikan Kristen dengan Yahudi. Bagi orang Kristen percaya kepada Allah Abraham, Ishak, Yakub. Allah yang dipercaya, sama dengan Allah agama Yahudi. Yahudi percaya Allah yang sama, bahkan Alkitab PL nya sama, hanya susunan urutannya yang berbeda.   Tetapi, ketika kita berbicara tentang Yesus Kristus adalah Tuhan, maka dengan segera akan menjadi sangat berbeda dengan Yahudi.  Dengan tegas mereka akan menolaknya, bukan hanya Yesus adalah Tuhan, termasuk Alkitab PB.  Jadi, jika ditanya apakah Allah Yahudi dan Kristen sama?  Jawabannya jelas sama.  Tetapi kenapa mereka tidak menerima Yesus Kristus adalah Tuhan, lagi-lagi perbedaan pandang teologis dan juga historis.  Dan, juga perlu diingat, Yahudi konflik dengan Kristen, dan cukup tajam, hingga penangkapan dan pembunuhan para rasul.  Ini adalah sebuah kenyataan dalam realita beragama.  Ini membuat kita tak serta merta bisa menjawab dengan mudah.  Harus diperhatikan latar belakang pertanyaan dan aspek lainnya.

5. Sekarang soal Allah Islam dan Kristen, apakah Allahnya sama. Bagi Islam, Allah adalah yang satu-satunya, yang menciptakan dan mengatur alam semesta (Tauhid rububiyah). Juga satu-satunya Allah yang harus disembah (Tauhid ubudiyah).  Dan, Allah yang dipercaya umat Islam adalah Allah Ibrahim (Abraham).  Allah yang juga disembah oleh Yahudi dan Kristen.  Jika ditanya sama, maka secara sederhana jawabannya adalah sama.  Sama-sama percaya kepada Allahnya Abraham.  Abraham ada jauh sebelum Yahudi menjadi sebuah sistim agama (era Musa), begitu juga Kristen, dan Islam yang lahir kemudian.          
 
6. Jika ditanya kenapa dalam kesehariannya berbeda, lagi-lagi ini soal tafsir teologis kepada Allah yang satu itu (Allah Abraham).  Kristen tak hanya beda dengan Islam, tetapi juga dengan Yahudi.  Ingat, perbedaan ini tidak hanya meliputi wilayah agama Yahudi, Kristen, Islam, melainkan di internal Kristen, juga ada perbedaan yang tajam.
 
7. Di sinilah dituntut ketajaman berpikir seorang Kristen, sehingga tidak asbun.  Sekaligus ini menjadi proyek besar yang harus digarap demi puji hormat nama Tuhan.   Ini yang kita sebut sebagai apologetika, yang harus santun, komprehensip, dan mencerdaskan. 
 
8. Berbicara soal kesalahannya di mana, rasanya cukup jelas, yaitu pada tafsir teologis.  Dan ini akan terus bergerak, bisa mendekat atau sebaliknya semakin menjauh.  Sangat tergantung pada kedewasaan dan sikap apriori yang harus dikikis.
 
9. Untuk soal Nabi Muhhamad SAW, jangan lupa beliau adalah pendiri agama Islam.  Dan, Islam menerima juga kitab Taurat, Zabur, dan Injil. Soal adanya perbedaan, lagi-lagi soal tafsir. Jangankan antara Islam dan Kristen.  Dikalangan Islam juga sama, ada beberapa tafsir.  Minimal ada Islam Sunni, dan Shiah.  Belum lagi yang lain seperti Islam Liberal, Ahmadiyah, Bahai, Druz, dan yang lainnya, yang oleh Islam mayoritas disebut bukan Islam.

10. Soal Tritunggal, jangankan dengan Islam, di lingkungan Kristen sendiri ada banyak tafsir soal ini.  Baik yang menerima, tapi berbeda cara memahami.  Termasuk ada juga yang menolak seperti Saksi Yehova, juga Liberal.

Pertanyaan seperti ini memerlukan kajian lebih mendalam, topik pertopik, baik teologis maupun historis. Dan itu tak mungkin bisa di ruang sempit rubrik ini.  Namun, jawaban di atas paling tidak sudah memberikan gambaran garis besar menyangkut apa ditanyakan orang selama ini .  Bagi Islam Tritunggal tidak bisa diterima, karena dianggap kesalahpahaman men-Tuhan-kan Isa Almasih (Yesus Kristus).  Sementara dalam teologi Kristen, Yesus Kristus adalah Tuhan yang menjadi manusia.  Sebuah prasuposisi yang sangat berbeda bukan?  Ini yang terjadi, dan harus dipahami dengan jeli.  Perlu waktu berdiskusi dengan jernih, bukan konflik.  Membersihkan sikap praduga yang salah, membangun wawasan yang luas, dan berdiskusi  dengan damai dan cerdas. Tuhan memberkati.

Rabu, 25 Juli 2012

Hipnotis Dan Yoga, Salahkah?


Hipnotis dan Yoga, Salahkah.jpg
Fenomena gaya hidup masa kini memang penuh dengan berbagai kemungkinan yang perlu dipahami utuh. Hipnotis, yang juga tampil sebagai hipnoterapi, atau yoga dengan berbagai pola. Namun sebelum lanjut, mari kita simak apa kata Alkitab. Lihat saja ahli sihir Mesir yang bisa melempar tongkat mereka dan kemudian berubah menjadi ular. Mereka kafir, tapi memiliki kuasa supranatural. Musa, dalam kuasa Tuhan melakukan hal yang sama, dan Tuhan menunjukkan kuasa-Nya lebih besar dari kuasa apapun.

Kita juga menemukan dalam 1 Samuel 28, tentang Saul, Raja Israel dengan seorang pemanggil arwah yang mampu memanggil arwah Samuel. Fenomena yang luar biasa. Tapi Alkitab jelas mengatakan; tak ada orang mati yang bisa dipanggil kembali (kasus Lazarus dan orang kaya). Fenomena pemanggilan arwah dengan kuasa iblis banyak mewarnai kehidupan berbagai suku di muka bumi ini. Dan ini adalah kemurkaan bagi Tuhan. Dalam Perjanjian Baru (PB) juga tercatat orang yang memelihara penenung untuk memperkaya diri (Kisah 16:16-18). Paulus dengan kuasa Tuhan mampu mengenali dan mengusir roh tenung itu. Lagi-lagi, siapapun bisa memiliki kuasa supranatural, namun berasal dari setan. Mereka disebut penyihir, penenung, pemanggil arwah, dukun, dan lain sebagainya. Paulus adalah rasul, tetapi bukan dukun. Kemampuan yang ada dari Tuhan, dan tidak menempel pada dirinya yang bisa dipakai kapan dia mau, melainkan kapan Tuhan mau. Berbeda dengan dukun yang bertindak sesuai keinginannya dengan bantuan setan.

Kemampuan supranatural yang menempel pada diri adalah ilmu kebathinan yang dikenal dalam dua golongan, yaitu ilmu hitam dan ilmu putih. Jika ilmu hitam tujuannya untuk menyakiti orang lain, maka ilmu putih sebaliknya, yaitu menolong atau menyembuhkan. Namun keduanya sama-sama supranatural, yang bukan berasal dari Tuhan. Alkitab tak pernah mencatat Tuhan memberi ilmu supranatural yang menetap menjadi kemampuaan seseorang, melainkan karunia, yang tidak menetap. Contoh, Paulus yang berdoa dan banyak orang disembuhkan. Tapi di sisi lain, muridnya Timotius yang mengalami ganguan pencernaan tidak sembuh (1 Timotius 5:23), juga rekan sepelayanannya Trofimus yang sakit (2 Timotius 4:20). Jadi tak selalu sakit langsung bisa disembuhkan dengan doa, tergantung pada Tuhan (bukan soal berhasil atau tidak, tapi apa kehendak Tuhan). Berbeda dengan dukun, semuanya diatasinya dengan ilmu kebathinannya (tapi juga sering gagal).

Pendeta masa kini banyak yang mirip dukun dalam soal penyembuhan, karena mengklaim diri memiliki kemampuan penyembuhan. Dan mereka menjadi pelanggan yang sakit. Sangat berbeda dengan semangat Paulus bukan. Lalu berdasarkan daerahnya, istilah dan polanya juga ada perbedaan. Misal, ada vodo dari Afrika yang menggunakan media boneka. Tapi lagi-lagi, semuanya sama perdukunan yang tidak sejalan dengan ajaran Alkitab. Nah, diera modern ini berkembang apa yang disebut sebagai six sense, atau indra keenam. Juga orang-orang dengan kemampuan khusus yang disebut indigo. Istilah baru sebagai baju, namun dalam prinsipnya sama, berpusat pada kemampuan diri. Ada yang menyebutnya kekuatan luar, tapi ada juga yang mengklaim sebagai aura bawaan lahir.

Sekarang banyak ilmu kebathinan tampil ramah, tidak seram seperti perdukunan waktu lampau. Kita mulai dengan hipnotis. Di sini adalah pelatihan konsentrasi yang berpusat pada kekuatan pikiran. Orang yang dihipnotis harus ada pada situasi tertentu. Pertama, dengan sadar mau dihipnotis, sehingga kemudian dia bertindak diluar kendali dirinya. Yang kedua, tidak memberi diri, tapi dalam situasi kosong (gamang, karena berbagai persoalan). Penghipnotis bisa masuk, dan yang dihipnotis melakukan apa yang diinginkan oleh si penghipnotis. Semua baru disadari kemudian. Jadi jelas hipnotis salah, karena bertindak dengan menghilangkan atau menguasai kesadaran seseorang. Bahkan hipnoterapi yang dilakukan untuk pengobatan juga sama. Pasien dibawa ke sebuah situasi yang kondusif dengan berbagai cara dan alat (musik, dll). Lalu dia dibawa ke alam bawah sadarnya, dan dari sanalah terapi dimulai. Jadi dia tidak pernah menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Dia membuat keputusan di luar kesadarannya, dan ini menyangkut sikap dan pola pikir. Berbeda dengan orang dibius untuk tindakan terhadap organ tubuh, yang dioperasi. Bius untuk menghilangkan rasa sakit, bukan penguasaan pikiran.

Sebagai seorang Kristen kita tak boleh terlibat didalamnya, baik sebagai pasien atau pelaku pengobatan. Lalu bagaimana dengan yoga. Setali tiga uang. Hanya saja perlu dibagi dua, yaitu murni pergerakan tubuh atau latihan pernafasan, dan bukan kekuatan pikiran dan menyedot energi yang ada disekitar diri. Jika yang terakhir, ini murni kekuatan pikiran. Pelatihan kekuatan pikiran (power of mind, suggestion), semuanya berpusat pada diri. Kekuatan konsentrasi dan mengarahkan pikiran ketempat yang dikehendaki. Ingat, secara sederhana, apapun yang berorientasi pada kekuatan diri, itu bukan sifat kristiani. Umat diajar oleh Alkitab justru sebaliknya, sangkal diri, berserah diri, kepada kehendak Allah, bukan berpusat pada diri. Jadi, Semua harus diteliti dengan baik, dan dipahami konsepnya dengan jelas. Seringkali dipermukaan tampaknya baik, namun sejatinya berlawanan dengan Alkitab. Inilah yang disebut era posmo, di mana semuanya ditampilkan dalam semangat relatifisme. Bungkusnya agama (mengabdi pada Tuhan), tapi isinya justru berorientasi pada diri.

Pertanyaan, apakah ada pendeta yang melakukan dengan unsur yang sama? Jawabannya sangat jelas; Ada! Soal siapa, atau yang mana, itu harus ditelusuri hati-hati, sehingga tidak menjadi fitnah. Namun soal ini Alkitab sangat jelas. Matius 7:21-23, mengatakan tidak tiap orang yang menyebut nama Tuhan, Tuhan, akan masuk surga, melainkan yang melakukan kehendak Bapa (Buah Roh, Galatia 5:22-23). Jadi, langkah pertama, kenali apakah pendeta tersebut hidupnya ada Buah Roh. Buah Roh (kualitas hidup), bukan kuantitas pelayanan (gereja ramai, besar, dll). Bukan hamba uang yang tujuannya melulu kekayaan. Yang kedua, mereka bisa bernubuat, mengusir setan, mengadakan mujijat, dalam nama Yesus. Tapi mereka ditolak Tuhan. Pertama, karena mereka menggunakan kuasa setan, tapi memakai nama Tuhan. Tuhan biarkan mereka berhasil, tapi dikematian, Tuhan buang mereka ke neraka. Yang kedua, bisa dengan kuasa Tuhan, tapi untuk ketenaran diri, dan kekayaan pribadi. Tuhan biarkan mereka sukses, tapi kemudian dibuang ke neraka. 

Muncul pertanyaan, bukankah akan banyak yang bisa tertipu dan tersesat? Jawabannya jelas; Ya! Tapi jangan lupa, Tuhan sudah mengingatkan, jangan anggap remeh pekerjaan Roh, tapi juga, ujilah segala sesuatu, supaya kamu tidak tersesat (1 Tesalonika 5:19-22). Adalah kejahatan, jika kita menerima apa saja, lalu bilang dari Tuhan, tapi tidak pernah mengujinya sesuai Alkitab. Ingat, pohon dikenal dari buahnya (Kualitas, bukan kuantitas).  Memang semakin banyak penyesat itu datang, sesuai kata Alkitab. Dan kekuatan mujijat mereka semakin hebat, hati-hatilah jangan tersesat. Mereka bisa menjual nama Tuhan, bahkan mengaku dan menyebut diri sebagai nabi, rasul, bahkan mesias, padahal sejatinya mereka palsu. Dulu sudah ada, sekarang juga, dan terus akan semakin banyak dimasa mendatang. Selamat mendektesi, dan membongkar kebusukannya.